ngw


Renungan Anak Desa di Kota
Mei 16, 2008, 3:19 pm
Diarsipkan di bawah: Uneg-uneg

Di tengah bising kota, kesibukan, tumpukan tugas, deadline, schedule pertemuan, aku selalu bertanya tentang siapa aku. Bahkan, aku sering bertanya, siapa aku yang sedang mempertanyakan siapa aku ini. Dalam diriku, seperti terbelah menjadi dua, antara anak desa yang dulu, setiap harinya bergumul dengan tanah ke sawah, bersahabat dengan kambing dan sapi di lapang rumput, atau sekarang yang harus keluar masuk gedung pencakar langit, bertemu konglomerat, hidup dalam high tech, dan gaya metropolis. Ada yang hilang, meski ada yang kuterima, di sini. Aku tak bisa lagi menikmati indahnya sinar bulan, karena Jakarta sewaktu malam begitu terang benderang seperti siang. Aku tak lagi bisa menikmati keheningan, karena jakarta adalah kota yang tak pernah tidur. Aku tak lagi bisa memperlambat kehidupanku, dengan bersantai atau kongkow minum kopi dan singkong goreng, sebab hidup di sini semakin cepat. Aku didefinisikan oleh apa yang disebut sukses, bahwa sukses adalah, berjalan lebih cepat, bangun lebih pagi, bekerja lebih keras.

Banyak orang kaya, tapi lupa bahagia. Itulah yang sering kutemui. Maka menjadi bahagia, aku kira lebih penting dari segala yang kita punya. Kebahagiaan, tidak diukur oleh apa yang menempel pada tubuh kita, tapi apa yang keluar dari diri kita. Bukan apa yang di luar, tapi apa yang di dalam. Bukan kuantitas, tapi kualitas. Kaya di luar, miskin di dalam. Saat-saat terindah dalam hidupku, bagaimanapun tetap tak tergantikan, yakni ketika aku di desa. Hidup begitu lambat, seperti proses alam yang bergerak. Ketika cuaca baik, kita bekerja, ketika cuaca buruk, kita berhenti bekerja. Bandingkan dengan kita yang di kota. Tak peduli hujan, atau panas, angin atau terik, kita tetap bekerja. Ketika panas kita pakai AC, ketika hujan, kita di dalam gedung atau memakai mobil. Tak ada masalah. Kita menciptakan alam kita sendiri, untuk mengganti alam primer. Di desa, hidup seperti bunga matahari, yang mekar ketika mendapat cahaya dan bergerak seturut gerak matahari. Kita selaras dengan alam. Menanam ketika hujan, memetik ketika kemarau. Kita selaras dengan alam. Siapa yang selaras dengan alam, dia bahagia.

Kini, tanpa munafik, semua anak-anak desa yang ada di kota, seperti teracuni dengan kapitalisme, konsumerisme. Mengejar untung, menolak rugi. Padahal hidup tak selamanya hanya dihitung untung dan rugi. Ingin menjadi kaya dan sukses, padahal kebahagiaan tak tergantung kaya dan sukses. Kita seperti mengejar bayang-bayang, sesuatu yang bukan kesejatian hidup. Tanpa kita sadari, kota telah menghancurkan hati kita seperti anak-anak desa yang polos, suci dan tak ternoda. Kita menjadi suka pamer dan egois. Kita menjadi narsis dan konsumeris. Kita suka instant food, dan lupa bagaimana memasak sayur sendiri. Kita suka beli coca cola dan gak suka air kendi.

Ini adalah sebuah paradoks. Dalam bahasa psikologi, sebuah split personality, parahnya sebuah schizofrenic. Keterpecahan, fragmentasi kepribadian. Kita adalah A dan B, sekaligus, kita bukan A dan bukan B. Entah, kita suka mengoleksi kartu kredit di dompet, sekedar gagah-gagahan atau memang kita butuhkan.

Yang pasti, setiap malam, aku selalu mengingat nasehat orang tuaku: Sing andhap asor, ojo dumeh, ojo kagetan, ojo gumunan. Semoga kita bisa kembali, menjadi pribadi-pribadi unggul, seperti dulu ketika kita berada di desa. (jebah).


Belum Ada Tanggapan sejauh ini
Tinggalkan komentar



Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>