Diarsipkan di bawah: Renungan
Hal pertama yang sulit untuk kulakukan adalah keluar dari diriku sendiri, melawan diriku sendiri, dan menaklukkan diri sendiri. Musuh terbesar kita dalam kehidupan ini adalah diri kita sendiri. Dalam Aikido (Seni Beladiri Jepang) dikatakan, barangsiapa berniat untuk menyakiti orang lain, ia sudah menyakiti dirinya sendiri. Barangsiapa berniat mengalahkan orang lain, ia sudah mengalahkan dirinya sendiri. Karena itu, ada seorang guru bijak yang mengatakan, “Kalau mau jadi besar harus jadi yang terkecil dari semua yang ada. Kalau mau jadi pemimpin, harus melayani. Kalau mau jadi yang terdepan, harus berada di belakang.” Hidup dengan demikian adalah sebuah paradoks, seperti mengejar kupu-kupu. Kita bisa seharian mengejar kupu-kupu, dan tak mendapatkan satupun. Kita berlari kesana-kemari, dan tak ada kupu-kupu yang kita tangkap. Tapi, kalau kita duduk diam, tenang, maka kupu-kupu itu justru akan hinggap dengan lembut di pundak kita. Banyak orang mengejar kebahagiaan, tapi tak mendapatkannya. Tapi mereka yang duduk diam, tenang, justru menemukan kebahagiaan. Mereka yang mencari, tak menemukan. Mereka yang menginginkan, tak mendapatkan. Yang hidup dalam kepasrahan, akan berkelimpahan.

Diri itu seperti penjara, yang membingkai kita menjadi seperti sekarang ini. Kita senang dengan identitas diri kita, karena kita memang butuh identitas. Kita butuh alamat rumah, kita butuh alamat kantor, kita butuh nomor telpon, alamat email. Kita butuh identitas. Namun, identitas itu, tanpa kita sadari, mematikan pelan-pelan kehidupan itu sendiri. Air yang terlalu lama disimpan dalam baskom, akan bau. Kehidupan yang terlalu lama dijerat dengan identitas, akan mati. Mengalir! Kehidupan dengan demikian harus mengalir. Kita mendapat, kita memberi. Kita dicintai, kita mencintai. Kita dimaafkan, kita memaafkan. Kita ditolong, kita menolong. Mengalir! Hidup jangan seperti kulkas yang menyimpan segala hal. Yang baik yang kita terima, yang buruk yang kita dapatkan, alirkan, lepaskan. Orang bijak mengatakan, “Ada dua hal yang harus segera kita lupakan dalam hidup ini. Pertama adalah perbuatan baik kita kepada orang lain, dan kedua, perbuatan buruk orang lain kepada kita.” Hidup harus seperti buku terbuka, dimana setiap orang bisa membacanya.
Dalam bahasa marketing, kita kenal istilah “Thingking out of the box“. Berpikir keluar dari kotak. Diri, identitas, adalah kotak-kotak yang membingkai cara berpikir kita. Karena itu, para motivator selalu mengatakan, agar kita keluar dari kota yang kita buat. Sebab, yang menjadi batas antara Jalan Sudirman dan Tamrin adalah pikiran kita sendiri. Batas itu tidak ada sebenarnya. Pikiran kitalah yang membuatnya. Coba kita renungkan cerita ini:
Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya. Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain. Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya. Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya, “Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh ?”.
Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan, “Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan”. Saat itu si Belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.
Pada hari 100 Tahun Kebangkitan Nasional
woto (joce74@yahoo.com)
1 Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
sesok sesok wae, wong agek mbliyeng
Komentar oleh Larjo Agustus 1, 2008 @ 5:30 am