ngw


The Road to Pamulang
Juni 22, 2008, 6:26 am
Diarsipkan di bawah: Renungan

Hari Sabtu, 21 Juni 2008 anak-anak muda paguyuban di Jakarta merencanakan kumpul di rumah Pak Tarto, di Pamulang. Ini adalah pertemuan kedua setelah pertemuan pertama di Regency, Tangerang, di rumah Pak Mul beberapa waktu yang lalu. Rupanya, pertemuan kali ini bertepatan dengan acara ulang tahun yang ke-8 Dilla, putri dari Pak Tarto.

Tidak ada yang formal dalam pertemuan ini, selain sharing dan cerita, tentang masa lalu, masa depan dan visi paguyuban. Asyik juga sih cerita-cerita mengenai hal seperti ini, terasa lucu, apalagi kalau menyinggung kelakuan-kelakuan aneh teman-teman sewaktu di Ngawu. Masa lalu memang tinggal terasa manis, meskipun dulu rasanya mungkin pahit dan getir. Ketika kita mengenang, menceritakan, atau menghidupkan kembali ingatan kita, masa lalu itu justru bisa menjadi pelipur lara bagi kita sekarang. Rasa sakit, rasa perih di masa lalu, bisa menjadi obat bagi masa kini.

Ada satu segment yang menarik dari pertemuan kemarin, yakni berusaha menggali lagi kosa kata yang khas Ngawu, yang mungkin sekarang sudah hampir punah. Kosa kata itu sering kita pakai sewaktu kecil, tapi karena jaman berubah, kosa kata itu sudah terlupakan. Misalnya, kata “cethul” untuk menyebut binatang calon katak. “Minthi” untuk  menyebut bayi ikan yang paling kecil, selain “wadher” dan masih banyak lagi. Aku sendiri sudah hampir lupa, dan ketika mendengar kosa kata seperti itu, maka yang muncul adalah gelak tawa diantara kita. Rasanya seperti sensasi suara yang aneh, tapi kita pernah mendengarnya, dulu, dulu sekali. Mendengar kata-kata itu, kita seperti diingatkan lagi tentang diri kita, siapa kita dan darimana kita. Kata-kata itu seperti mengajak kita untuk pulang kembali, pulang kepada masa lalu kita, yang adalah tempat kita lahir dan besar. Begitulah. Orang bijak mengatakan, hidup ini pada dasarnya adalah perjalanan untuk pulang. Kita pulang kepada Tuhan di Surga, setelah mengembara di dunia ini. Kita pulang setiap hari ke rumah, setelah seharian bekerja di kantor. Kita pulang ke kampung setelah berbulan-bulan merantau ke kota. Perjalanan pulang adalah perjalanan yang menyenangkan, karena kita bisa melihat kembali jalan-jalan lama dengan cara pandang yang baru. Halaman rumah kita dulu terasa luas, sekarang kok terasa sempit. Jalan yang dulu kita rasakan lebar, sekarang kok sempit. Atap rumah yang dulu tinggi, kok sekarang jadi pendek. Hidup ini sebenarnya tidak ada yang berubah. Yang berubah adalah cara pandang kita, paradigma kita. Masa lalu tetap masa lalu, yang berubah adalah cara kita memperlakukannya.

Inilah kedasyatan bahasa, yang mampu mengajak kita semua sore itu, untuk pulang. Heidegger, filsuf Jerman, mengatakan, “Bahasa adalah rumah kita.” Begitulah, kita dulu, sekarang dan nanti tinggal di dalam bahasa.

Ada usulan dari teman-teman untuk mengumpulkan kosa kata kuno khas Ngawu ini dan dijilidkan sehingga terdokumentasi, dan diwariskan. Ini ide yang briliant. Jika bahasa adalah rumah kita, maka tentu kita tidak ingin kehilangan rumah ini. Ayo..tinggal siapa yang menjadi provokator untuk segera memulai menuliskannya. Karena, seribu langkah hanya bisa ditempuh dengan langkah yang pertama. Jika tidak, kita hanya akan dianggap sebagai pemimpi belaka.

Hal lain yang dibahas dan menarik adalah visi kita untuk mengembangkan blog ini sebagai tempat bertemu antar anak-anak Ngawu yang tersebar di perantauan. Ini juga ide yang briliant. Dunia kita sekarang adalah cyber community. Dalam 10-20 tahun ke depan, masyarakat kita semakin high tech, bahkan sekarang, sudah mulai orang ber-chatt via HP atau nonton TV dan dengerin radio via HP. e-HP ini sangat revolusioner, karena dimanapun juga orang bisa buka akses internet, wireless dan mobile. Dengan membuat blog seperti ini (syukur-syukur nanti bisa buat website), kita telah menanamkan visi kita dalam 10-20 tahun ke depan, untuk adik-adik kita. Kita sudah di jalan yang benar. Maju terus!

Ya itu saja dari aku, yang lain biar diceritakan yang lain….setiap orang punya jalannya masing-masing….(woto)



Njagong
Juni 20, 2008, 5:25 am
Diarsipkan di bawah: Nggambleh

hallo, piye kabare konco2, kok wis ora kelingan karo blog e. Blas ora ono sing mbukak opo meneh ngisi!

O ya, sekedar informasi bahwa adik, saudara, temen kita Hari (cucu dari mbah wito n mbah partiyem. alm) pada hari minggu  6 juli 2008 nanti akan mengikat janji menerima sakramen perkawinan di gereja klaten.

Diharapkan temen2 datang (njagong) ya, sekalian kita latihan volley untuk

persiapan desember nanti. Paling nggak kita bisa mengalahkan orang2 ngawu. ha .. ha ….. Sampai ketemu di ngawu (moel).