ngw


berita baru di ngawu
Juli 10, 2008, 5:23 am
Diarsipkan di bawah: Renungan
asem

Selasa, 1 Juli 2008 aku pulang kampung bersama lek Temen dan istri. Berangkat dari Pool GMS Mauk, Tangerang tepat jam 01.00 siang dan esoknya sampai di Ngawu jam 08.00 pagi. Ngojek pak samijo sambil melihat kiri kanan pak warak yang mulai kering, panas. Semoga keadaan di Ngawu tidak sepanas yang aku bayangkan disini. Dan hanya lungko-lungko yang bisa dilihat di sawah (memprihatinkan) batinku.

Sampai di Ngawu sama saja masih seperti yang dulu jalan, pohon, telisir, bethek, hanya rumah ya… satu dua ada yang baru yang bangunannya agak modern.

Selang satu malam aku lewati dengan dinginnya Ngawu, maklum mongso ketigo (mbediding), aku mendengar kiri kanan kuping ini lama-lama yang aku bayangkan di pak warak kemarin memang kejadian PANAS. PANAS sekali hati, pikiran ini mendengar tetangga jauh dekat bahkan saudara dekat yang mempunyai sifat dan sikap yang jelek.

Sikap yang memprihatinkan sekali yang hanya karena mengandalkan ego masing-masing sehingga satu sama lain saling menyalahkan hingga terjadi yang namanya jothaan/satru. Yang besar merasa dirinya benar, yang kecil juga merasa bener, sing tua tidak merasa nuani, sing enom tidak merasa ngenomi. Sebenarnya aku pingin sekali cerita disini…..

Dan itu setiap tahun setiap aku pulang pasti ada saja yang jothaan/satru. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah jothaan/satru juga sudah menjadi ciri lain orang-orang Ngawu? (Moel)