ngw


Spiritualitas Akar Rumput
Oktober 14, 2008, 3:29 am
Diarsipkan di bawah: Renungan

Seekor keledai dengan setumpuk kitab suci, tetap adalah seekor keledai

 

Kearifan Tradisional

 

Tuhan seringkali harus dicari, meskipun Tuhan lebih banyak yang mencari kita. Menemukan Tuhan adalah harapan dari setiap spiritualis. Tapi kenyataannya, sebelum kita bisa menemukan Tuhan, Tuhan seringkali sudah menemukan kita. Namun, pencarian wajah Tuhan adalah sebuah perjalanan yang panjang dan mengasyikkan, disamping menantang. Rumi, seorang guru sufi, akhirnya menemukan, bahwa Tuhan bukanlah di luar diri kita, sehingga kita harus pergi ke suatu tempat. Tuhan ada di dalam diri, sehingga kita harus berjalan ke dalam.

 

Aku mencari Tuhan di dalam Vihara;

Tetapi aku tidak menemukan Tuhan di dalam Vihara.

Aku mencari Tuhan di dalam Gereja;

Tetapi aku tidak menemukan Tuhan di dalam Gereja.

Aku mencari Tuhan di dalam Masjid;

Tetapi aku tidak menemukan Tuhan di dalam Masjid.

 

Kemudian aku mencari Tuhan di dalam hatiku sendiri;

Aku menemukan Tuhan di dalam hatiku sendiri.

 

(Jalaludin Rumi)

 

Doa dipercaya banyak orang bisa menjadi jembatan yang membawa kita kepada kesadaran lebih tinggi hingga bertemu Tuhan. Tapi bagaimana kita harus berdoa? Pertanyaan ini tak pernah padam dalam sejarah, selalu meletup kapanpun, ketika hati dipenuhi kekaguman untuk menemukan Tuhan.

 

Ada seorang murid, suatu kali datang kepada guru kebijaksanaan. Si murid ini bertanya kepada guru itu: Guru, bagaimanakah caranya berdoa. Lalu si Guru itu menjawab: Bagaimana kita berdoa, tergantung pada bagaimana kita hidup sehari-hari. Lalu guru ini meneruskan pembicaraannya: Ketika engkau masuk ke rumah ibadah dan tiba-tiba ingat engkau sedang berseteru dengan saudaramu, maka segera keluarlah dari tempat ibadah itu, dan berdamailah dulu dengan saudaramu, karena itulah ibadah yang sejati.

 

Kisah ini mengingatkan saya dengan kisah seorang teman dari Nahdatul Ulama, beberapa waktu lalu ketika kami buka puasa bersama. Kisahnya: Ada seorang calon Haji yang hendak berangkat ke Mekkah. Rencananya, ia berangkat bersama dengan teman-teman calon jemaah haji lainnya. Semua sudah dipersiapkan. Tapi, pada pagi hari menjelang keberangkatannya, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk seseorang. Ketika dibuka, ternyata tamu di pagi buta ini adalah tetangga di belakang rumahnya. Tetangga ini mengatakan bahwa ia sedang butuh uang karena istrinya sakit keras dan harus dirawat di rumah sakit. Ia mengaku tak punya uang sepeserpun. Lalu, dengan penuh keikhlasan, si calon haji ini akhirnya memberikan uang, yang rencananya dijadikan bekal ke tanah suci, untuk membantu tetangganya yang sakit. Ia sendiri akhirnya membatalkan kepergiannya ke tanah suci. Lalu teman saya ini bertanya: Mana yang lebih Mabrur, para Haji yang berangkat ke Mekkah, atau seseorang yang tak jadi naik haji gara-gara menolong sesamanya?

 

Dua kisah di atas adalah jawaban-jawaban yang bersayap untuk menjelaskan apa sesungguhnya doa dan apa sejatinya ibadah. Kita bisa menamainya spiritualitas sosial, yakni cara berdoa dan cara beribadah yang menyatukan dimensi sosial dan spiritual. Ignatius de Loyola menyebutnya “Contemplatio in Actione”, berdoa di dalam tindakan, sebab tindakan itu sendiri adalah doa. Dalam bahasa Gede Prama, ia menulis: Ibadahku adalah hidupku sehari-hari.

 

Kita terlalu mengagung-agungkan kehidupan biara, melebihi kehidupan kaum awam, sebab seakan-akan biara adalah tempat dimana Tuhan ditemukan. Kita memuja kaum berjubah, seperti halnya kasta pendeta, yang kedudukannya lebih tinggi dalam hal kerohanian. Padahal, spiritualitas itu bertumbuh dengan subur justru ketika bertumbukan dan bertabrakan dengan pengalaman kongkret, eksistensial kehidupan manusia setiap harinya. Spiritualitas bukan sebuah angan-angan kontemplatif, ketika semua kebutuhan dasar terpenuhi sehingga orang bisa meniti pelangi kerohanian. Bukan!

 

Sebuah buku Budhis karangan Manfred dan Besserman, “Grassroots Zen” (2007) mencoba untuk merefleksikan, bagaimana spiritualitas yang selama ini seakan-akan hak privat dari kaum klerik monastik, ternyata juga menjadi dan sudah menjadi cara hidup masyarakat akar rumput, yang hidupnya tidak di balik tembok biara, tapi justru di tengah keramaian dan riuh-rendah kehidupan sehari-hari. Spiritualitas akar rumput ini tumbuh dalam masyarakat petani, buruh, pujangga, seniman, kaum intelektual dan pedagang. Spiritualitas akar rumput tumbuh bersama dengan nafas-nafas dan detak hidup yang real dan kongkret, dimana Tuhan ditemukan bukan dalam keheningan doa dan meditasi, tapi dalam cucuran keringat ketika mencari sesuap nasi di tengah terik matahari dan guyuran hujan. Bleeding Faith, iman yang berdarah-darah karena harus bergulat dengan waktu, mengejar setoran, mencapai target, memburu deadline, demi menghidupi anak, istri dan diri sendiri. Spiritualitas seperti ini lebih membumi dan menyatu dengan kehidupan, sebab apa lebihnya seseorang yang beriman karena hidupnya sudah nyaman, dengan seseorang yang tetap beriman meskipun badai kehidupan menerjangnya? Beban fisik yang kita angkat, akan membuat tangan kita menjadi kuat. Begitu juga beban kehidupan yang kita panggul, akan membuat spiritualitas kita menjadi kokoh. Tidak hanya latihan jasmani, tapi juga latihan rohani kita butuhkan. Memikirkan biaya sekolah anak, perawatannya hingga kesehatannya, memikirkan biaya transportasi yang terus naik, memikirkan harga-harga kebutuhan pokok yang terus membumbung, memikirkan sewa tempat tinggal yang semakin mahal, memikirkan pekerjaan yang semakin sulit, ini semua adalah bahan-bahan untuk latihan rohani kita, ini semua adalah lahan untuk menguji spiritualitas kita. Betapa kayanya seorang awam, dengan demikian, dengan persentuhan-persentuhan spiritual, kaya dengan materi-materi latihan rohani yang tak pernah habis, yang tidak kita dapatkan dimanapun, kecuali menjadi seorang awam.

 

Maka, perlulah dibangun sebuah paradigma baru tentang spiritualitas, dimana kaum awam sesungguhnya memiliki energi kerohanian yang jauh lebih matang, lebih bergigi, lebih membumi, daripada spiritualitas klerik biara, yang memang tumbuh dari suasana nyaman dan aman. Jika selama ini kaum awam mendengarkan sharing kerohanian para klerik biarawan, maka sudah waktunya sekarang kita mengubah haluan, bagaimana kaum biarawan mendengarkan kaum awam, dan menemukan kekayaan spiritualitas yang tak kan pernah mereka alami di balik tembok biara. Spiritualitas akar rumput.

 

Berdoalah untuk apa yang engkau inginkan, tetapi bekerjalah untuk sesuatu yang engkau butuhkan

 

Kebijaksaan China

By Marwoto

(joce74@yahoo.com)



Keindahan Memberi
Oktober 5, 2008, 5:33 am
Diarsipkan di bawah: Renungan

Tidak ada yang bisa menyamai rasa senang ketika kita tahu bahwa kita telah melakukan sesuatu yang sangat baik untuk orang lain. Tak peduli, apakah orang lain itu tahu atau tidak tahu, kita melakukan sesuatu yang baik untuk mereka. Kita percaya, apapun agama kita, background budaya kita, profesi kita, status social kita, yang namanya memberi kepada orang lain, pasti berada di puncak tertinggi perbuatan baik kita.

 

Ibu Theresa, seorang tokoh spiritual dari India, terkenal sebagai guru perdamaian, persaudaraan, amal, kebaikan dan cinta. Kutipan ucapannya yang paling saya sukai adalah yang bunyinya begini: “Kita tidak bisa melakukan hal besar di Bumi ini. Kita hanya bisa melakukan hal kecil dengan cinta yang besar.” Yang ia maksud adalah, kita tidak perlu mengubah dunia dengan tindakan kita. Kita hanya melakukan sumbangan kecil yang tak pernah berhenti.

 

Suatu kali Ibu Theresa ditanya oleh seseorang: “Apa yang bisa dilakukan seseorang untuk menjadi lebih bahagia?” Ia menjawab: “Lakukan sesuatu yang menyenangkan untuk orang lain.” Kalau kita melakukan sesuatu yang menyenangkan untuk orang lain, maka dunia akan terlihat lebih baik. Kalau kita bersikap baik dan penuh perhatian, dunia juga akan mengembalikan kebaikan itu kepada kita.

 

Kita bisa melakukan hal-hal yang baik dari hal-hal yang kecil. Suatu kali, ada seorang anak kecil yang lupa membawa bekal makanannya ke sekolah. Lalu, ada seorang temannya yang menawarinya makan bersama dari bekalnya saja. Tindakan sederhana ini rupanya dikenang oleh si anak kecil ini. Sepanjang hari ia berbahagia terus karena mengetahui ada orang lain yang begitu baik kepadanya. Di sebuah sekolah SMA, ada anak-anak remaja yang berinisiatif mengumpulkan seribu rupiah tiap bulannya untuk membantu seorang anak di daerah yang tidak bisa sekolah karena tidak ada biaya. Kita hanya bisa membayangkan, apa yang terjadi kalau semua sekolah memiliki gagasan hebat seperti anak-anak remaja ini. Setidaknya, seluruh dunia akan menjadi lebih baik dan akan menanggung lebih sedikit penderitaan.

 

Kadang-kadang, membela pecundang atau menolak mempermainkan seseorang yang menjadi bahan ejekan orang lain adalah tindakan cinta yang sederhana. Sesuatu yang membuat kita lebih bahagia. Dan, kadang-kadang, sekedar mengucapkan hallo atau juga hanya dengan tersenyum kepada orang lain, itu saja sudah cukup. 

 

Setiap kali kita memberi kepada orang lain, dan dengan cara apapun yang kita pilih, kita akan merasakan bahwa tingkat stress kita akan berkurang. Kita akan merasa lebih baik tentang diri sendiri, dunia sekitar dan Tuhan. Salah satu rahasia terbesar di dunia ini adalah memberi. Dengan memberi lebih sering, kita akan menjadi lebih bahagia.

 

Kadang-kadang kita menjadi seseorang yang peragu ketika hendak memberi. Kita memikirkan dampak dari pemberian kita pada orang lain. Misalnya kita memberi uang seratus ribu kepada orang yang minta pertolongan kepada kita. Kita berpikir, uang ini nantinya mau dipakai untuk apa ya? Jangan-jangan untuk beli narkoba, jangan-jangan untuk judi, jangan-jangan saya cuman ditipu? Akhirnya, kita berada di titik ragu untuk memberi, dan akhirnya kita tak jadi memberi.

 

Suatu kali ada seorang teman yang bercerita begini: Saya tahu saya akan ditipu, tapi saya tetap memberi. Waktu itu, datanglah kepada saya seorang yang mau pinjam uang. Dia bilang orang tuanya meninggal dunia dan dia butuh uang untuk menguburkannya. Teman saya ini mengatakan: Akhirnya dia memberi uang tersebut, meskipun ia tahu ia telah dibohongi dan telah ditipu, karena ia tahu persis orang tua orang ini tidak meninggal dunia. Saya bertanya: Kenapa ia tetap memberi meskipun ia tahu kalau ditipu? Teman saya ini menjawab: Memberi itu tidak tergantung pada kondisi di luar diri kita. Memberi itu tergantung pada kondisi di dalam diri kita. Tidak ada orang lain yang bisa memotivasinya memberi atau melarangnya memberi. Dirinya sendirilah yang memutuskan, apakah akan memberi atau tidak.

 

Nilai dari sebuah pemberian, bukan tergantung pada alasan-alasan mengapa kita memberi, tapi pada motivasi mengapa kita memberi. Kita bisa kasihan dengan orang lain, tapi motivasi kita bisa jadi hanya untuk mencari nama baik dan popularitas. Kasihan, iba, tersentuh, simpati, empati, hanya perasaan-perasaan yang berada di level permukaan, yang harus kita murnikan lagi, kita pertanyakan terus, sampai menemukan inti motivasi dari tindakan memberi kita. Seperti mutiara yang penuh lumpur, harus dicuci dan digosok lagi agar menemukan keindahan mutiaranya. Motivasi itu tidak bisa diukur orang lain, kecuali diri kita sendiri. Motivasi itu hanya bisa ditemukan lewat jalan-jalan kejujuran, bukan kemunafikan.

 

Memberilah karena Anda ingin memberi, bukan karena rasa iba, kasihan, atau agar dapat pujian apalagi pahala. Kitab suci dengan bagus sekali membahasakan bagaimana Tuhan juga memberi hujan dan matahari kepada orang baik dan orang jahat. Ketika kita memberi, ini hanya percikan kebaikan Tuhan yang ada dalam diri kita, yang Maha Pemberi. Maka, motivasi teragung dan terluhur dalam memberi, bukan dengan melihat kondisi orang yang mau kita beri, tapi melihat Tuhan yang tiada henti memberi kepada kita manusia. Dengan menggantungkan motivasi kita pada Tuhan, maka dorongan memberi dalam diri kita ini tak akan pernah berhenti, ibarat sungai, tak akan pernah kering. Akan selalu mengalir, membasahi orang-orang di sekitar kita.

 

Memberi tak harus lewat materi. Karena pemberian materi bisa busuk, bisa rusak, bisa hilang, bisa kadaluwarsa. Pemberian materi hanya symbol saja dari pemberian diri kita kepada orang tersebut. Jadi bukan yang utama. Senyuman, sambutan hangat, perhatian dan kehadiran, jauh melampui semua pemberian dalam bentuk materi. Untuk hal ini, Kahlil Gibran, Penyair terkenal dari Palestina, pernah berujar: Bila engkau memberi dari hartamu, tak banyaklah pemberian itu. Namun jika engkau memberi dari dirimu, itulah pemberian yang penuh arti. Jadi, luangkan waktu untuk memikirkan berbagai cara supaya kita bisa lebih sering memberi kepada orang lain. Percayalah, tidak ada yang sia-sia ketika kita melakukannya.

 

(Woto)