Diarsipkan di bawah: Joker
Pada hari Sabtu, 10 May 2008, pemuda dan beberapa pemudi Ngawu berkumpul di rumah Mulyanto, di daerah Tangerang. Ada beberapa yang hadir, diantaranya: Prapto sekeluarga, Mulyanto dan istri, Woto, Anto Kancil, Tri Pendek dan istri, Oki, Marjan sekeluarga, Hari dan calon istri. Acara ini merencanakan akan diadakannya “Ngawu Volley Turnament” pada hari Natal 2008 nanti.
Apa yang menjadi dasar?
Yang menjadi dasar dari acara “Ngawu Volley Turnament 2008″ adalah keinginan dari teman-teman muda Jakarta untuk menghidupkan kembali tradisi pertandingan bola volley setiap Natal di Ngawu. Setidaknya, selama beberapa tahun terakhir ini, kegiatan serupa tak lagi jalan. Ada banyak sebab. Bisa jadi karena di kampung sendiri sudah tidak ada pemuda-pemudi, dan tinggal para orang tua di sana. Katanya ini keberhasilan urbanisasi dan Keluarga Berencana. Mungkin juga faktor pendanaan. Atau, ada juga faktor relasi sosial yang sudah mulai pudar.
Berbekal keprihatinan dan harapan, pemuda-pemudi Ngawu yang ada di Jakarta ternyata masih memiliki hati untuk memikirkan kampungnya. Lecutan ini pertama kali datang dari Tri Gepeng. Waktu itu, ia sempat berkelakar, “Aduh aku tuh kalau pulang kampung, liburan Natal, pasti ditanyain ma teman-teman, kok Ngawu gak pernah ngadain pertandingan volley lagi.” Dari situlah, diskusi bergulir. Lalu diputuskan untuk membuat turnamen yang sama. Mengapa tidak. Asal kita kompak, bersatu, apa sih yang tak mungkin? Bener gak!
Hasilnya?
Hasil pertemuan malam itu, disusun panitia pelaksana “Ngawu Volley Turnament 2008″, sebagai berikut:
Ketua Pelaksana : Oky
Bendahara : Mulyanto dan Tarto
Humas : Tri Gepeng dan Anto Kancil
Dokumentasi : Woto
Seksi Peralatan : Tri Gepeng
Seksi Pengadaan Kaos : Prapto dan Mulyanto
Seksi Acara di Kampung diserahkan PIC (Personal in charge-nya) : tentu saja Pak Lurah Ngawu.
Nah, rembuk punya rembuk, ternyata kita butuh dana sebesar 3 juta-an rupiah. Dana ini diperinci untuk:
Konsumsi (yang meliputi snack, makan, minum) : Rp 1 juta
Perijinan : Rp 50 ribu
Uang Keamanan : Rp 150 ribu
Hadiah : Juara I Rp 500 ribu, juara II Rp 300 ribu, dan juara III Rp 200 ribu.
Sumbangan untuk kampung : Rp 500 ribu
Biaya lain-lain (Kerja bakti persiapan, sound system dan tempat) : Rp 500 ribu
Karena itulah, dibutuhkan sumbangan, para pendonor dan iuran anggota untuk menutup biaya ini. habis siapa lagi kalau bukan kita-kita sendiri yang terlibat, bener gak. Asal kita kompak, gak ada yang mustahil. Hidup harus optimis, sebelum optimis itu bayar. Nah, untuk kaos, kemarin juga sempat dibahas, akan ditarik tiap orang yang pakai atau pesan kaos itu. Harganya belum ditentukan. Maaf, sekarang lagi susah memprediksi, karena harga BBM naik turun, hehe…
Tapi kemarin sih sempat disepakati untuk anak-anak muda Ngawu akan ditarik uang sebesar Rp 150 ribu. Bisa bayar cicil, asal gak sampai mecicil hehe…sementara ditetapkan juga beberapa donatur yang diharapkan, bukan maksa lho, bisa nyumbang di atas 150 ribu itu. Nah, berikut daftar anak-anak muda-mudi Ngawu di Jakarta, yang berkewajiban, bukan maksa, tapi kalau gak bayar awas hehe…:
1. Tri Gepeng, 2. Hari, 3. Oky, 4. Sipur Kawung, 5. Tri Pendek, 6. Anto Kancil, 7. Santi, 8. Sinta, 9. Evi, 10. Nining, 11. Nita, 12. Sisri, 13. Giyanto Togog, 14. Pur Belot, 15. Tri Pontono.
Lalu, para donatur yang ditetapkan adalah :
1. Tarto, 2. Sarno, 3. Mulanto, 4. Prapto, 5. Woto, 6. Larjo, dan tidak menutup kemungkinan yang lain juga bisa gabung jadi sukarelawan untuk mensukseskan acara ini.
Lalu untuk pemakai kaos, katanya akan ditarik Rp 50 ribu per orang. Mereka adalah:
Prapto, Marjan, Heri, Gepeng, Oky, Hari, Mul, Kawung, Woto, Sarno, Pontono, Anto, Sudir, Aji, Dwi, Togog, Saman.
Btw, supaya acara ini tak hanya sekedar urusan uang, maka setelah rapat, tuan rumah, Pak Mul, sudah menyediakan masakan daging RW. Wah, wah, malam itu semua benar-benar berpesta sampai puas. Lalu, tertidurlah dengan pulas di rumah Pak Mul sampai pagi.
Sekian notulen dari saya, kalau ada salah ketik maaf sebesar-besarnya. (Woto)