ngw


Spiritualitas Akar Rumput
Oktober 14, 2008, 3:29 am
Diarsipkan di bawah: Renungan

Seekor keledai dengan setumpuk kitab suci, tetap adalah seekor keledai

 

Kearifan Tradisional

 

Tuhan seringkali harus dicari, meskipun Tuhan lebih banyak yang mencari kita. Menemukan Tuhan adalah harapan dari setiap spiritualis. Tapi kenyataannya, sebelum kita bisa menemukan Tuhan, Tuhan seringkali sudah menemukan kita. Namun, pencarian wajah Tuhan adalah sebuah perjalanan yang panjang dan mengasyikkan, disamping menantang. Rumi, seorang guru sufi, akhirnya menemukan, bahwa Tuhan bukanlah di luar diri kita, sehingga kita harus pergi ke suatu tempat. Tuhan ada di dalam diri, sehingga kita harus berjalan ke dalam.

 

Aku mencari Tuhan di dalam Vihara;

Tetapi aku tidak menemukan Tuhan di dalam Vihara.

Aku mencari Tuhan di dalam Gereja;

Tetapi aku tidak menemukan Tuhan di dalam Gereja.

Aku mencari Tuhan di dalam Masjid;

Tetapi aku tidak menemukan Tuhan di dalam Masjid.

 

Kemudian aku mencari Tuhan di dalam hatiku sendiri;

Aku menemukan Tuhan di dalam hatiku sendiri.

 

(Jalaludin Rumi)

 

Doa dipercaya banyak orang bisa menjadi jembatan yang membawa kita kepada kesadaran lebih tinggi hingga bertemu Tuhan. Tapi bagaimana kita harus berdoa? Pertanyaan ini tak pernah padam dalam sejarah, selalu meletup kapanpun, ketika hati dipenuhi kekaguman untuk menemukan Tuhan.

 

Ada seorang murid, suatu kali datang kepada guru kebijaksanaan. Si murid ini bertanya kepada guru itu: Guru, bagaimanakah caranya berdoa. Lalu si Guru itu menjawab: Bagaimana kita berdoa, tergantung pada bagaimana kita hidup sehari-hari. Lalu guru ini meneruskan pembicaraannya: Ketika engkau masuk ke rumah ibadah dan tiba-tiba ingat engkau sedang berseteru dengan saudaramu, maka segera keluarlah dari tempat ibadah itu, dan berdamailah dulu dengan saudaramu, karena itulah ibadah yang sejati.

 

Kisah ini mengingatkan saya dengan kisah seorang teman dari Nahdatul Ulama, beberapa waktu lalu ketika kami buka puasa bersama. Kisahnya: Ada seorang calon Haji yang hendak berangkat ke Mekkah. Rencananya, ia berangkat bersama dengan teman-teman calon jemaah haji lainnya. Semua sudah dipersiapkan. Tapi, pada pagi hari menjelang keberangkatannya, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk seseorang. Ketika dibuka, ternyata tamu di pagi buta ini adalah tetangga di belakang rumahnya. Tetangga ini mengatakan bahwa ia sedang butuh uang karena istrinya sakit keras dan harus dirawat di rumah sakit. Ia mengaku tak punya uang sepeserpun. Lalu, dengan penuh keikhlasan, si calon haji ini akhirnya memberikan uang, yang rencananya dijadikan bekal ke tanah suci, untuk membantu tetangganya yang sakit. Ia sendiri akhirnya membatalkan kepergiannya ke tanah suci. Lalu teman saya ini bertanya: Mana yang lebih Mabrur, para Haji yang berangkat ke Mekkah, atau seseorang yang tak jadi naik haji gara-gara menolong sesamanya?

 

Dua kisah di atas adalah jawaban-jawaban yang bersayap untuk menjelaskan apa sesungguhnya doa dan apa sejatinya ibadah. Kita bisa menamainya spiritualitas sosial, yakni cara berdoa dan cara beribadah yang menyatukan dimensi sosial dan spiritual. Ignatius de Loyola menyebutnya “Contemplatio in Actione”, berdoa di dalam tindakan, sebab tindakan itu sendiri adalah doa. Dalam bahasa Gede Prama, ia menulis: Ibadahku adalah hidupku sehari-hari.

 

Kita terlalu mengagung-agungkan kehidupan biara, melebihi kehidupan kaum awam, sebab seakan-akan biara adalah tempat dimana Tuhan ditemukan. Kita memuja kaum berjubah, seperti halnya kasta pendeta, yang kedudukannya lebih tinggi dalam hal kerohanian. Padahal, spiritualitas itu bertumbuh dengan subur justru ketika bertumbukan dan bertabrakan dengan pengalaman kongkret, eksistensial kehidupan manusia setiap harinya. Spiritualitas bukan sebuah angan-angan kontemplatif, ketika semua kebutuhan dasar terpenuhi sehingga orang bisa meniti pelangi kerohanian. Bukan!

 

Sebuah buku Budhis karangan Manfred dan Besserman, “Grassroots Zen” (2007) mencoba untuk merefleksikan, bagaimana spiritualitas yang selama ini seakan-akan hak privat dari kaum klerik monastik, ternyata juga menjadi dan sudah menjadi cara hidup masyarakat akar rumput, yang hidupnya tidak di balik tembok biara, tapi justru di tengah keramaian dan riuh-rendah kehidupan sehari-hari. Spiritualitas akar rumput ini tumbuh dalam masyarakat petani, buruh, pujangga, seniman, kaum intelektual dan pedagang. Spiritualitas akar rumput tumbuh bersama dengan nafas-nafas dan detak hidup yang real dan kongkret, dimana Tuhan ditemukan bukan dalam keheningan doa dan meditasi, tapi dalam cucuran keringat ketika mencari sesuap nasi di tengah terik matahari dan guyuran hujan. Bleeding Faith, iman yang berdarah-darah karena harus bergulat dengan waktu, mengejar setoran, mencapai target, memburu deadline, demi menghidupi anak, istri dan diri sendiri. Spiritualitas seperti ini lebih membumi dan menyatu dengan kehidupan, sebab apa lebihnya seseorang yang beriman karena hidupnya sudah nyaman, dengan seseorang yang tetap beriman meskipun badai kehidupan menerjangnya? Beban fisik yang kita angkat, akan membuat tangan kita menjadi kuat. Begitu juga beban kehidupan yang kita panggul, akan membuat spiritualitas kita menjadi kokoh. Tidak hanya latihan jasmani, tapi juga latihan rohani kita butuhkan. Memikirkan biaya sekolah anak, perawatannya hingga kesehatannya, memikirkan biaya transportasi yang terus naik, memikirkan harga-harga kebutuhan pokok yang terus membumbung, memikirkan sewa tempat tinggal yang semakin mahal, memikirkan pekerjaan yang semakin sulit, ini semua adalah bahan-bahan untuk latihan rohani kita, ini semua adalah lahan untuk menguji spiritualitas kita. Betapa kayanya seorang awam, dengan demikian, dengan persentuhan-persentuhan spiritual, kaya dengan materi-materi latihan rohani yang tak pernah habis, yang tidak kita dapatkan dimanapun, kecuali menjadi seorang awam.

 

Maka, perlulah dibangun sebuah paradigma baru tentang spiritualitas, dimana kaum awam sesungguhnya memiliki energi kerohanian yang jauh lebih matang, lebih bergigi, lebih membumi, daripada spiritualitas klerik biara, yang memang tumbuh dari suasana nyaman dan aman. Jika selama ini kaum awam mendengarkan sharing kerohanian para klerik biarawan, maka sudah waktunya sekarang kita mengubah haluan, bagaimana kaum biarawan mendengarkan kaum awam, dan menemukan kekayaan spiritualitas yang tak kan pernah mereka alami di balik tembok biara. Spiritualitas akar rumput.

 

Berdoalah untuk apa yang engkau inginkan, tetapi bekerjalah untuk sesuatu yang engkau butuhkan

 

Kebijaksaan China

By Marwoto

(joce74@yahoo.com)



Keindahan Memberi
Oktober 5, 2008, 5:33 am
Diarsipkan di bawah: Renungan

Tidak ada yang bisa menyamai rasa senang ketika kita tahu bahwa kita telah melakukan sesuatu yang sangat baik untuk orang lain. Tak peduli, apakah orang lain itu tahu atau tidak tahu, kita melakukan sesuatu yang baik untuk mereka. Kita percaya, apapun agama kita, background budaya kita, profesi kita, status social kita, yang namanya memberi kepada orang lain, pasti berada di puncak tertinggi perbuatan baik kita.

 

Ibu Theresa, seorang tokoh spiritual dari India, terkenal sebagai guru perdamaian, persaudaraan, amal, kebaikan dan cinta. Kutipan ucapannya yang paling saya sukai adalah yang bunyinya begini: “Kita tidak bisa melakukan hal besar di Bumi ini. Kita hanya bisa melakukan hal kecil dengan cinta yang besar.” Yang ia maksud adalah, kita tidak perlu mengubah dunia dengan tindakan kita. Kita hanya melakukan sumbangan kecil yang tak pernah berhenti.

 

Suatu kali Ibu Theresa ditanya oleh seseorang: “Apa yang bisa dilakukan seseorang untuk menjadi lebih bahagia?” Ia menjawab: “Lakukan sesuatu yang menyenangkan untuk orang lain.” Kalau kita melakukan sesuatu yang menyenangkan untuk orang lain, maka dunia akan terlihat lebih baik. Kalau kita bersikap baik dan penuh perhatian, dunia juga akan mengembalikan kebaikan itu kepada kita.

 

Kita bisa melakukan hal-hal yang baik dari hal-hal yang kecil. Suatu kali, ada seorang anak kecil yang lupa membawa bekal makanannya ke sekolah. Lalu, ada seorang temannya yang menawarinya makan bersama dari bekalnya saja. Tindakan sederhana ini rupanya dikenang oleh si anak kecil ini. Sepanjang hari ia berbahagia terus karena mengetahui ada orang lain yang begitu baik kepadanya. Di sebuah sekolah SMA, ada anak-anak remaja yang berinisiatif mengumpulkan seribu rupiah tiap bulannya untuk membantu seorang anak di daerah yang tidak bisa sekolah karena tidak ada biaya. Kita hanya bisa membayangkan, apa yang terjadi kalau semua sekolah memiliki gagasan hebat seperti anak-anak remaja ini. Setidaknya, seluruh dunia akan menjadi lebih baik dan akan menanggung lebih sedikit penderitaan.

 

Kadang-kadang, membela pecundang atau menolak mempermainkan seseorang yang menjadi bahan ejekan orang lain adalah tindakan cinta yang sederhana. Sesuatu yang membuat kita lebih bahagia. Dan, kadang-kadang, sekedar mengucapkan hallo atau juga hanya dengan tersenyum kepada orang lain, itu saja sudah cukup. 

 

Setiap kali kita memberi kepada orang lain, dan dengan cara apapun yang kita pilih, kita akan merasakan bahwa tingkat stress kita akan berkurang. Kita akan merasa lebih baik tentang diri sendiri, dunia sekitar dan Tuhan. Salah satu rahasia terbesar di dunia ini adalah memberi. Dengan memberi lebih sering, kita akan menjadi lebih bahagia.

 

Kadang-kadang kita menjadi seseorang yang peragu ketika hendak memberi. Kita memikirkan dampak dari pemberian kita pada orang lain. Misalnya kita memberi uang seratus ribu kepada orang yang minta pertolongan kepada kita. Kita berpikir, uang ini nantinya mau dipakai untuk apa ya? Jangan-jangan untuk beli narkoba, jangan-jangan untuk judi, jangan-jangan saya cuman ditipu? Akhirnya, kita berada di titik ragu untuk memberi, dan akhirnya kita tak jadi memberi.

 

Suatu kali ada seorang teman yang bercerita begini: Saya tahu saya akan ditipu, tapi saya tetap memberi. Waktu itu, datanglah kepada saya seorang yang mau pinjam uang. Dia bilang orang tuanya meninggal dunia dan dia butuh uang untuk menguburkannya. Teman saya ini mengatakan: Akhirnya dia memberi uang tersebut, meskipun ia tahu ia telah dibohongi dan telah ditipu, karena ia tahu persis orang tua orang ini tidak meninggal dunia. Saya bertanya: Kenapa ia tetap memberi meskipun ia tahu kalau ditipu? Teman saya ini menjawab: Memberi itu tidak tergantung pada kondisi di luar diri kita. Memberi itu tergantung pada kondisi di dalam diri kita. Tidak ada orang lain yang bisa memotivasinya memberi atau melarangnya memberi. Dirinya sendirilah yang memutuskan, apakah akan memberi atau tidak.

 

Nilai dari sebuah pemberian, bukan tergantung pada alasan-alasan mengapa kita memberi, tapi pada motivasi mengapa kita memberi. Kita bisa kasihan dengan orang lain, tapi motivasi kita bisa jadi hanya untuk mencari nama baik dan popularitas. Kasihan, iba, tersentuh, simpati, empati, hanya perasaan-perasaan yang berada di level permukaan, yang harus kita murnikan lagi, kita pertanyakan terus, sampai menemukan inti motivasi dari tindakan memberi kita. Seperti mutiara yang penuh lumpur, harus dicuci dan digosok lagi agar menemukan keindahan mutiaranya. Motivasi itu tidak bisa diukur orang lain, kecuali diri kita sendiri. Motivasi itu hanya bisa ditemukan lewat jalan-jalan kejujuran, bukan kemunafikan.

 

Memberilah karena Anda ingin memberi, bukan karena rasa iba, kasihan, atau agar dapat pujian apalagi pahala. Kitab suci dengan bagus sekali membahasakan bagaimana Tuhan juga memberi hujan dan matahari kepada orang baik dan orang jahat. Ketika kita memberi, ini hanya percikan kebaikan Tuhan yang ada dalam diri kita, yang Maha Pemberi. Maka, motivasi teragung dan terluhur dalam memberi, bukan dengan melihat kondisi orang yang mau kita beri, tapi melihat Tuhan yang tiada henti memberi kepada kita manusia. Dengan menggantungkan motivasi kita pada Tuhan, maka dorongan memberi dalam diri kita ini tak akan pernah berhenti, ibarat sungai, tak akan pernah kering. Akan selalu mengalir, membasahi orang-orang di sekitar kita.

 

Memberi tak harus lewat materi. Karena pemberian materi bisa busuk, bisa rusak, bisa hilang, bisa kadaluwarsa. Pemberian materi hanya symbol saja dari pemberian diri kita kepada orang tersebut. Jadi bukan yang utama. Senyuman, sambutan hangat, perhatian dan kehadiran, jauh melampui semua pemberian dalam bentuk materi. Untuk hal ini, Kahlil Gibran, Penyair terkenal dari Palestina, pernah berujar: Bila engkau memberi dari hartamu, tak banyaklah pemberian itu. Namun jika engkau memberi dari dirimu, itulah pemberian yang penuh arti. Jadi, luangkan waktu untuk memikirkan berbagai cara supaya kita bisa lebih sering memberi kepada orang lain. Percayalah, tidak ada yang sia-sia ketika kita melakukannya.

 

(Woto)

 

 



berita baru di ngawu
Juli 10, 2008, 5:23 am
Diarsipkan di bawah: Renungan
asem

Selasa, 1 Juli 2008 aku pulang kampung bersama lek Temen dan istri. Berangkat dari Pool GMS Mauk, Tangerang tepat jam 01.00 siang dan esoknya sampai di Ngawu jam 08.00 pagi. Ngojek pak samijo sambil melihat kiri kanan pak warak yang mulai kering, panas. Semoga keadaan di Ngawu tidak sepanas yang aku bayangkan disini. Dan hanya lungko-lungko yang bisa dilihat di sawah (memprihatinkan) batinku.

Sampai di Ngawu sama saja masih seperti yang dulu jalan, pohon, telisir, bethek, hanya rumah ya… satu dua ada yang baru yang bangunannya agak modern.

Selang satu malam aku lewati dengan dinginnya Ngawu, maklum mongso ketigo (mbediding), aku mendengar kiri kanan kuping ini lama-lama yang aku bayangkan di pak warak kemarin memang kejadian PANAS. PANAS sekali hati, pikiran ini mendengar tetangga jauh dekat bahkan saudara dekat yang mempunyai sifat dan sikap yang jelek.

Sikap yang memprihatinkan sekali yang hanya karena mengandalkan ego masing-masing sehingga satu sama lain saling menyalahkan hingga terjadi yang namanya jothaan/satru. Yang besar merasa dirinya benar, yang kecil juga merasa bener, sing tua tidak merasa nuani, sing enom tidak merasa ngenomi. Sebenarnya aku pingin sekali cerita disini…..

Dan itu setiap tahun setiap aku pulang pasti ada saja yang jothaan/satru. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah jothaan/satru juga sudah menjadi ciri lain orang-orang Ngawu? (Moel)



The Road to Pamulang
Juni 22, 2008, 6:26 am
Diarsipkan di bawah: Renungan

Hari Sabtu, 21 Juni 2008 anak-anak muda paguyuban di Jakarta merencanakan kumpul di rumah Pak Tarto, di Pamulang. Ini adalah pertemuan kedua setelah pertemuan pertama di Regency, Tangerang, di rumah Pak Mul beberapa waktu yang lalu. Rupanya, pertemuan kali ini bertepatan dengan acara ulang tahun yang ke-8 Dilla, putri dari Pak Tarto.

Tidak ada yang formal dalam pertemuan ini, selain sharing dan cerita, tentang masa lalu, masa depan dan visi paguyuban. Asyik juga sih cerita-cerita mengenai hal seperti ini, terasa lucu, apalagi kalau menyinggung kelakuan-kelakuan aneh teman-teman sewaktu di Ngawu. Masa lalu memang tinggal terasa manis, meskipun dulu rasanya mungkin pahit dan getir. Ketika kita mengenang, menceritakan, atau menghidupkan kembali ingatan kita, masa lalu itu justru bisa menjadi pelipur lara bagi kita sekarang. Rasa sakit, rasa perih di masa lalu, bisa menjadi obat bagi masa kini.

Ada satu segment yang menarik dari pertemuan kemarin, yakni berusaha menggali lagi kosa kata yang khas Ngawu, yang mungkin sekarang sudah hampir punah. Kosa kata itu sering kita pakai sewaktu kecil, tapi karena jaman berubah, kosa kata itu sudah terlupakan. Misalnya, kata “cethul” untuk menyebut binatang calon katak. “Minthi” untuk  menyebut bayi ikan yang paling kecil, selain “wadher” dan masih banyak lagi. Aku sendiri sudah hampir lupa, dan ketika mendengar kosa kata seperti itu, maka yang muncul adalah gelak tawa diantara kita. Rasanya seperti sensasi suara yang aneh, tapi kita pernah mendengarnya, dulu, dulu sekali. Mendengar kata-kata itu, kita seperti diingatkan lagi tentang diri kita, siapa kita dan darimana kita. Kata-kata itu seperti mengajak kita untuk pulang kembali, pulang kepada masa lalu kita, yang adalah tempat kita lahir dan besar. Begitulah. Orang bijak mengatakan, hidup ini pada dasarnya adalah perjalanan untuk pulang. Kita pulang kepada Tuhan di Surga, setelah mengembara di dunia ini. Kita pulang setiap hari ke rumah, setelah seharian bekerja di kantor. Kita pulang ke kampung setelah berbulan-bulan merantau ke kota. Perjalanan pulang adalah perjalanan yang menyenangkan, karena kita bisa melihat kembali jalan-jalan lama dengan cara pandang yang baru. Halaman rumah kita dulu terasa luas, sekarang kok terasa sempit. Jalan yang dulu kita rasakan lebar, sekarang kok sempit. Atap rumah yang dulu tinggi, kok sekarang jadi pendek. Hidup ini sebenarnya tidak ada yang berubah. Yang berubah adalah cara pandang kita, paradigma kita. Masa lalu tetap masa lalu, yang berubah adalah cara kita memperlakukannya.

Inilah kedasyatan bahasa, yang mampu mengajak kita semua sore itu, untuk pulang. Heidegger, filsuf Jerman, mengatakan, “Bahasa adalah rumah kita.” Begitulah, kita dulu, sekarang dan nanti tinggal di dalam bahasa.

Ada usulan dari teman-teman untuk mengumpulkan kosa kata kuno khas Ngawu ini dan dijilidkan sehingga terdokumentasi, dan diwariskan. Ini ide yang briliant. Jika bahasa adalah rumah kita, maka tentu kita tidak ingin kehilangan rumah ini. Ayo..tinggal siapa yang menjadi provokator untuk segera memulai menuliskannya. Karena, seribu langkah hanya bisa ditempuh dengan langkah yang pertama. Jika tidak, kita hanya akan dianggap sebagai pemimpi belaka.

Hal lain yang dibahas dan menarik adalah visi kita untuk mengembangkan blog ini sebagai tempat bertemu antar anak-anak Ngawu yang tersebar di perantauan. Ini juga ide yang briliant. Dunia kita sekarang adalah cyber community. Dalam 10-20 tahun ke depan, masyarakat kita semakin high tech, bahkan sekarang, sudah mulai orang ber-chatt via HP atau nonton TV dan dengerin radio via HP. e-HP ini sangat revolusioner, karena dimanapun juga orang bisa buka akses internet, wireless dan mobile. Dengan membuat blog seperti ini (syukur-syukur nanti bisa buat website), kita telah menanamkan visi kita dalam 10-20 tahun ke depan, untuk adik-adik kita. Kita sudah di jalan yang benar. Maju terus!

Ya itu saja dari aku, yang lain biar diceritakan yang lain….setiap orang punya jalannya masing-masing….(woto)



Buat yang sayang sama Bunda
Mei 25, 2008, 2:19 am
Diarsipkan di bawah: Renungan
Mumpung mama (Bunda, Simbok, Mamak, Ibuk) kamu masih ada, coba  saat Beliau tidur,..saat matanya terpejam,..kamu tatap wajahnya 5 meniiiit aja! cuma 5 menit aja kok..ga usah lama2!..
Coba rasain,kalo wajah beliau sudah ngga ada disitu..rasain lewat Hati kamu yg paling dalam,..Lakukan apapun yang bisa kamu lakukan untuknya, SEKARANG!!!
BUKAN 1jam lagi !!

BUKAN 1hari lagi !!
BUKAN 1bulan lagi !! tapi SEKARANG…
JANGAN tunggu kalau Beliau sudah mau ninggalin kehidupan kita..,penyesalan ngga datang duluan sahabat2ku!
 

ada sebuah cerita tentang
“BETAPA BESAR KASIH MAMA BUAT KITA”
Seorang anak mencari Ibunya dan mdapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur..Kemudian dia mengulurkan tangannya dan memberikan sehelai kertas yang sudah ia siapkan sehari sebelumnya…
Sang Ibu segera membersihkan tangan lalu menerima kertas yang diulurkan oleh anaknya dan membacanya…

OngKos bantuin MAMA:
1) Bantu pergi ke warung : Rp 20.000,00
2) Jagain ade : Rp 20.000,00
3) Buang sampah : Rp 5.000,00
4) Beresin tempat tidur : Rp 10.000,00
5) Nyiram bunga : Rp 15.000,00
6) Nyapu halaman : Rp 15.000,00
    TotaL : Rp 85.000,00
Selesai membaca kertas tersebut,Sang Ibu hanya tersenyum memandang anaknya. Si Anak pun tersenyum penuh kemenangan!
Lalu Sang Ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama.
1) OngKos mengandungmu selama 9bulan-GRATIS
2) OngKos menyusuimu anakku-GRATIS
3) OngKos berjaga malam karena menjagamu-GRATIS
4) OngKos air mata yang menetes karenamu-GRATIS
5) OngKos khawatir krn memikirkan keadaanmu-GRATIS
6) OngKos menyediakan makan, minum, pakaian dan keperluanmu-GRATIS
    Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku-GRATIS
 
Air mata Si Anak berlinang setelah membaca. dGn erat dan berbisik sambil terisak di dekat telinga Ibunya, “AKU SAYANG SAMA MAMA! UDAH Ga ADA LAGi YG PERLU DIBAYAR OLEH MAMA.. UDAH LUNAS SEMUANYA.. BUKAN MAMA YANG HUTANG SAMA AKU, TAPI AKU YANG UTANG SAMA MAMA…” (by Joker)

 

 

 



Yahoo Messenger (YM)
Mei 24, 2008, 1:51 pm
Diarsipkan di bawah: Renungan

Dua kali aku ber-YM dengan Tri Pontono. Baru kali ini aku chatting dengan sesama sahabat Ngawu. Memberi sensasi yang berbeda. Ada perenungan tersendiri sehingga aku tergerak untuk menulisnya. Tri waktu itu di Lampung, mulanya aku tidak tahu, karena rupanya dia sudah request aku, supaya aku add. Nama yang muncul adalah Harleng Ak. Tak tahulah aku, siapa itu Harleng Ak. Lalu aku add dan tanya, siapa ini. Ternyata, muncullah fotonya di kolom image, dan ternyata si Pontono, sahabat dari Ngawu. Terlonjak juga hatiku, akhirnya toh bisa menemukan teman dari Ngawu untuk ber-YM. Hahaha…selalu ada yang lain dari persahabatan ketika yang kita temui adalah mereka yang telah tahu siapa kita, darimana kita, dan (mengutip kata-kata Mul), kita sudah tahu bagaimana kecilnya. Segera terlintas dalam pikiranku, seandainya kita semua sudah tersambung dengan YM, katakanlah seluruh orang Ngawu yang ada di Jakarta dan kota-kota lain, alangkah mudahnya berkomunikasi. YM atau chatt adalah teks wicara, seperti SMS, hanya gratis, karena dibayar kantor hahaha….tapi ada juga yang pakai webcam, sehingga bisa lihat wajah dan ekpresinya ketika lagi nulis. Apakah sambil jongkok atau nungging hehe….Dulu, ada Bung Ono Purbo, seorang pakar IT nomor 1 di Indonesia, kalau gak salah, mencita-citakan agar seluruh desa di seluruh Indonesia ini terkoneksi dengan internet. Ide ini sebenarnya sangat revolusioner. Bayangkan kalau Ngawu juga terkoneksi dengan internet, artinya kita sedang membuat link Ngawu dengan seluruh dunia. Semua orang di dunia bisa mengakses Ngawu dengan segala isi perutnya. Orang-orang Ngawu bisa jualan semangka, gaplek, cabe, padi, atau kerajinan tangan lewat internet. Bisa jadi, ada orang Jakarta atau tempat lain dan luar negeri yang tertarik dan beli. Saya sih berharap, blog Ngawu ini bisa berkembang ke arah sana. Kita menampilkan sisi-sisi potensial dari Ngawu dengan segala aneka budayanya.

Kemarin aku wawancara dengan Siswono Yudho Husodo soal kenapa kok kita ini negara agraris tapi impor beras, kita ini negara lautan tapi impor garam, kita ini negara anggota OPEC atau produsen minyak tapi kelimpungan ketika harga minyak naik. Siswono mengatakan, semuanya karena salah urus. Setelah itu, saya baru dapat edaran dari Kwik Gian Gie lewat email, yang beritanya cukup mengagetkan, ternyata subsidi BBM kita itu bohong. Selama ini tak ada subsidi BBM, karena kita sebenarnya tidak pernah kekurangan BBM. Katanya, kita hanya kekurangan 0,2 juta barel saja per tahunnya. Ah..lagi-lagi kalau ditanya kenapa, jawabannya ya salah urus. Nah, menurut saya, ide Bung Ono Purbo untuk mengkoneksikan seluruh desa di seluruh Indonesia melalui internet adalah ide bagus, karena dengan demikian, maka memudahkan kita mengurus bangsa ini. Kita ini negara kepulauan, terlalu luas kalau diurus dengan cara-cara manual. Cost-nya terlalu banyak. Seorang teman, bolak-balik ke Papua saja menghabiskan Rp 90 juta rupiah. Bagaimana kalau berkali-kali?

Belum lama ini, tim IT-ku di kantor juga baru berhasil membuat radioku bisa online di web (radio web). Jadi selain bisa didengarkan di pesawat manual, kalau dulunya hanya di empat kota (Jadebotabek, Bali, Lampung, Samarinda), kini bisa didengarkan di seluruh dunia yang terkoneksi. Ide ini sebenarnya muncul ketika aku ketemu teman-teman dari mgradio di Senayan City beberapa waktu lalu. Mereka anak-anak muda yang bisa siaran dari Amerika, Eropa, China, Autralia, dll. So, jika tidak ada halangan, teman-teman bisa mampir di radioku, di www.heartline.co.id, nah click aja untuk dengerin radionya. Aku siaran jam 8-9 pagi, programnya coffee morning, talking about politics, economy, cultural and social….hehehe, numpang promosi.

Jadi intinya, internet membuat dunia ini semakin sempit dan mengecil. Sampai-sampai seorang pakar komunikasi kenamaan, Marshall McLuhan mengatakan dunia kita ini telah menjadi sebuah kampung global (global village). Ya, ibarat kampung, yang begitu dekat dengan tetangga, dan bisa bertegur sapa.

Ah, itu saja ocehanku hari ini, dan untuk teman-teman yang sudah punya email yahoo, sign in saja di YM so kita bisa chatting di sela-sela kerja……lumayan kan, bisa mengenang masa kecil di dunia maya. I’ll be waiting….(Woto)



kEhiDupaN…
Mei 20, 2008, 4:32 am
Diarsipkan di bawah: Renungan

Kehidupan  adalah anugerah utama Illahi. Anugrah kehidupan memberi gambaran KebesaranNya buat kita, yg wajib kita syukuri dan hargai. senantiasa kita beringat , apa yg qta lakukan, akan dipertanggung jawabkan pada kemudian hari. Gunakan sebaik2 nya karunia Tuhan kepada qta. Halalkan kegunaan akal, hati dan lidah pada perkara yg membawa kecermelangan diri qta dunia & akhirat, qta hidup hanya sekali. Sekali ‘pergi’  tak akan kembali. Buat baik ber pada2 , & buat jahat jangan sekali-kali. Walaupun , dunia terus maju dengan teknologi, kita akan terus kekal dengan akhlak dan jati diri insani……………. (joker)



Sekedar Renungan
Mei 20, 2008, 3:21 am
Diarsipkan di bawah: Renungan

Hal pertama yang sulit untuk kulakukan adalah keluar dari diriku sendiri, melawan diriku sendiri, dan menaklukkan diri sendiri. Musuh terbesar kita dalam kehidupan ini adalah diri kita sendiri. Dalam Aikido (Seni Beladiri Jepang) dikatakan, (lagi…)