Seekor keledai dengan setumpuk kitab suci, tetap adalah seekor keledai
Kearifan Tradisional
Tuhan seringkali harus dicari, meskipun Tuhan lebih banyak yang mencari kita. Menemukan Tuhan adalah harapan dari setiap spiritualis. Tapi kenyataannya, sebelum kita bisa menemukan Tuhan, Tuhan seringkali sudah menemukan kita. Namun, pencarian wajah Tuhan adalah sebuah perjalanan yang panjang dan mengasyikkan, disamping menantang. Rumi, seorang guru sufi, akhirnya menemukan, bahwa Tuhan bukanlah di luar diri kita, sehingga kita harus pergi ke suatu tempat. Tuhan ada di dalam diri, sehingga kita harus berjalan ke dalam.
Aku mencari Tuhan di dalam Vihara;
Tetapi aku tidak menemukan Tuhan di dalam Vihara.
Aku mencari Tuhan di dalam Gereja;
Tetapi aku tidak menemukan Tuhan di dalam Gereja.
Aku mencari Tuhan di dalam Masjid;
Tetapi aku tidak menemukan Tuhan di dalam Masjid.
Kemudian aku mencari Tuhan di dalam hatiku sendiri;
Aku menemukan Tuhan di dalam hatiku sendiri.
(Jalaludin Rumi)
Doa dipercaya banyak orang bisa menjadi jembatan yang membawa kita kepada kesadaran lebih tinggi hingga bertemu Tuhan. Tapi bagaimana kita harus berdoa? Pertanyaan ini tak pernah padam dalam sejarah, selalu meletup kapanpun, ketika hati dipenuhi kekaguman untuk menemukan Tuhan.
Ada seorang murid, suatu kali datang kepada guru kebijaksanaan. Si murid ini bertanya kepada guru itu: Guru, bagaimanakah caranya berdoa. Lalu si Guru itu menjawab: Bagaimana kita berdoa, tergantung pada bagaimana kita hidup sehari-hari. Lalu guru ini meneruskan pembicaraannya: Ketika engkau masuk ke rumah ibadah dan tiba-tiba ingat engkau sedang berseteru dengan saudaramu, maka segera keluarlah dari tempat ibadah itu, dan berdamailah dulu dengan saudaramu, karena itulah ibadah yang sejati.
Kisah ini mengingatkan saya dengan kisah seorang teman dari Nahdatul Ulama, beberapa waktu lalu ketika kami buka puasa bersama. Kisahnya: Ada seorang calon Haji yang hendak berangkat ke Mekkah. Rencananya, ia berangkat bersama dengan teman-teman calon jemaah haji lainnya. Semua sudah dipersiapkan. Tapi, pada pagi hari menjelang keberangkatannya, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk seseorang. Ketika dibuka, ternyata tamu di pagi buta ini adalah tetangga di belakang rumahnya. Tetangga ini mengatakan bahwa ia sedang butuh uang karena istrinya sakit keras dan harus dirawat di rumah sakit. Ia mengaku tak punya uang sepeserpun. Lalu, dengan penuh keikhlasan, si calon haji ini akhirnya memberikan uang, yang rencananya dijadikan bekal ke tanah suci, untuk membantu tetangganya yang sakit. Ia sendiri akhirnya membatalkan kepergiannya ke tanah suci. Lalu teman saya ini bertanya: Mana yang lebih Mabrur, para Haji yang berangkat ke Mekkah, atau seseorang yang tak jadi naik haji gara-gara menolong sesamanya?
Dua kisah di atas adalah jawaban-jawaban yang bersayap untuk menjelaskan apa sesungguhnya doa dan apa sejatinya ibadah. Kita bisa menamainya spiritualitas sosial, yakni cara berdoa dan cara beribadah yang menyatukan dimensi sosial dan spiritual. Ignatius de Loyola menyebutnya “Contemplatio in Actione”, berdoa di dalam tindakan, sebab tindakan itu sendiri adalah doa. Dalam bahasa Gede Prama, ia menulis: Ibadahku adalah hidupku sehari-hari.
Kita terlalu mengagung-agungkan kehidupan biara, melebihi kehidupan kaum awam, sebab seakan-akan biara adalah tempat dimana Tuhan ditemukan. Kita memuja kaum berjubah, seperti halnya kasta pendeta, yang kedudukannya lebih tinggi dalam hal kerohanian. Padahal, spiritualitas itu bertumbuh dengan subur justru ketika bertumbukan dan bertabrakan dengan pengalaman kongkret, eksistensial kehidupan manusia setiap harinya. Spiritualitas bukan sebuah angan-angan kontemplatif, ketika semua kebutuhan dasar terpenuhi sehingga orang bisa meniti pelangi kerohanian. Bukan!
Sebuah buku Budhis karangan Manfred dan Besserman, “Grassroots Zen” (2007) mencoba untuk merefleksikan, bagaimana spiritualitas yang selama ini seakan-akan hak privat dari kaum klerik monastik, ternyata juga menjadi dan sudah menjadi cara hidup masyarakat akar rumput, yang hidupnya tidak di balik tembok biara, tapi justru di tengah keramaian dan riuh-rendah kehidupan sehari-hari. Spiritualitas akar rumput ini tumbuh dalam masyarakat petani, buruh, pujangga, seniman, kaum intelektual dan pedagang. Spiritualitas akar rumput tumbuh bersama dengan nafas-nafas dan detak hidup yang real dan kongkret, dimana Tuhan ditemukan bukan dalam keheningan doa dan meditasi, tapi dalam cucuran keringat ketika mencari sesuap nasi di tengah terik matahari dan guyuran hujan. Bleeding Faith, iman yang berdarah-darah karena harus bergulat dengan waktu, mengejar setoran, mencapai target, memburu deadline, demi menghidupi anak, istri dan diri sendiri. Spiritualitas seperti ini lebih membumi dan menyatu dengan kehidupan, sebab apa lebihnya seseorang yang beriman karena hidupnya sudah nyaman, dengan seseorang yang tetap beriman meskipun badai kehidupan menerjangnya? Beban fisik yang kita angkat, akan membuat tangan kita menjadi kuat. Begitu juga beban kehidupan yang kita panggul, akan membuat spiritualitas kita menjadi kokoh. Tidak hanya latihan jasmani, tapi juga latihan rohani kita butuhkan. Memikirkan biaya sekolah anak, perawatannya hingga kesehatannya, memikirkan biaya transportasi yang terus naik, memikirkan harga-harga kebutuhan pokok yang terus membumbung, memikirkan sewa tempat tinggal yang semakin mahal, memikirkan pekerjaan yang semakin sulit, ini semua adalah bahan-bahan untuk latihan rohani kita, ini semua adalah lahan untuk menguji spiritualitas kita. Betapa kayanya seorang awam, dengan demikian, dengan persentuhan-persentuhan spiritual, kaya dengan materi-materi latihan rohani yang tak pernah habis, yang tidak kita dapatkan dimanapun, kecuali menjadi seorang awam.
Maka, perlulah dibangun sebuah paradigma baru tentang spiritualitas, dimana kaum awam sesungguhnya memiliki energi kerohanian yang jauh lebih matang, lebih bergigi, lebih membumi, daripada spiritualitas klerik biara, yang memang tumbuh dari suasana nyaman dan aman. Jika selama ini kaum awam mendengarkan sharing kerohanian para klerik biarawan, maka sudah waktunya sekarang kita mengubah haluan, bagaimana kaum biarawan mendengarkan kaum awam, dan menemukan kekayaan spiritualitas yang tak kan pernah mereka alami di balik tembok biara. Spiritualitas akar rumput.
Berdoalah untuk apa yang engkau inginkan, tetapi bekerjalah untuk sesuatu yang engkau butuhkan
Kebijaksaan China
By Marwoto
(joce74@yahoo.com)